SELAMAT DATANG DI WEBSITE PBP KESBANGPOLINMAS KUDUS

Jln simpang 7 no.1 pendopo Kabupaten Kudus phone 0291 435010

Kami satgas PBP (penanggulangan bencana dan pengungsian) dibawah naungan kesbangpolinmas kabupaten kudus,yg terdiri dari unsur linmas inti dan satgas PBP,berusaha menjadi yg terbaik,siap dimanapun dan kapanpun melayani siapapun,tidak mengenal waktu,pengabdian kami tidak mengharap balasan jasa berbentuk apapun,semata mata hanya panggilan jiwa demi sesama , silahkan hubungi kami :

Radio frekwensi VHF 16.1190




Rabu, 17 Oktober 2012

Selang Gas LPG Bocor, Dapur Terbakar

Kota - Sikap hati-hati dalam menggunakan paket kompor gas LPG 3 kg sebagai sarana alat untuk memasak perlu mendapatkan perhatian khusus bagi pemiliknya. Lengah sedikit dalam memanfaatkan peralatan yang satu ini bisa fatal akibatnya.

Kamis (11/10), beberapa hari lalu menjadikan catatan tersendiri bagi Sri Suyati (53), warga Purwosari, RT 01 RW 06, Kota, Kudus. Pasalnya kompor yang biasa ia gunakan untuk memasak berakibat terjadinya kebaran yang melanda dapur ukuran 2 x 5 m miliknya. Kebakaran itu terjadi sekitar pukul 05.40 pagi.

Karena lokasi rumah berdektan dengan gedung sekolah dan rumah penduduk, korban menjadi panik. "Saat kejadian saya langsung meminta suami saya untuk menghubungi pemadam dari PT. Djarum Kudus, mengingat kondisi medan yang sulit dijangkau, pemadam tidak bisa masuk ke lokasi," tuturnya.

Jumat, 05 Oktober 2012

Rumah Janda Terbakar; BPBD Salurkan Bantuan

Dawe - Nasib tiada orang yang tahu, demikian sepenggal kalimat yang dapat diungkapkan pada peristiwa kebakaran  rumah tinggal yang dialami oleh seorang wanita janda bernama  Sarni (40), warga RT 04 RW 05, Cendono, Dawe, Kudus.

Pasalnya rumah yang ia huni  bersama kedua anaknya bernama Heriyanto (15) dan Mahmudah Aini (20) pada Jumat (28/9) beberapa hari lalu, sekitar pukul 8.00 pagi, ludes dilumat api. Dalam hitungan sekejap, bangunan rumah tua berukuran 12 x 9 m beserta perabotan rumah tangga habis menjadi arang. Tragisnya, kejadian ini tidak dikatahui oleh Sarni, karena saat itu ia sedang berkerja di PT Gentong Gotri Kudus sebagai buruh harian lepas, sedangkan kedua anaknya juga melakukan aktifitas diluar. Peristiwa ini diduga karena konsleting arus listrik.

Sabtu, 22 September 2012

RUMAH KOSONG DI BARONGAN TERBAKAR

Kota - Akibat konsleting arus listrik, rumah kosong berukuran 6 x 9 m yang terletak di Desa Barongan RT 03 RW 02, Kota Kudus, hari ini Sabtu (22/9) dalam sekejap luluh lantah dilumat si jago merah.

Rabu, 12 September 2012

ANAK MAIN API, DAPUR TERBAKAR

Kaliwungu - Selang beberapa hari dari kejadian kebaran gudang tebu di Desa Puyoh Kecamatan Dawe, hari ini Rabu (12/9), musibah kebakaran kembali terjadi. Peristiwa kebakaran itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB di Desa Garungkidul, Dukuh Bendaran RT 7 RW 2 Kecamatan Kaliwungu Kudus.

Kamis, 09 Agustus 2012

SARKAWI DITEMUKAN TEWAS TERBAKAR

BAE -  Nasib Sarkawi Basyar (80), warga Dukuh Kadilangon RT 2 RW 8, Gondangmanis, Bae, Kudus siang tadi Kamis (9/8) sekitar pukul 10.00 WIB ditemukan tewas terbakar disebuah areal kebun tebu milik Rukani, Gondangmanis, Bae, Kudus.  

Kejadian ini bermula saat korban membersihkan sisa-sisa daun tebu "selamper" diareal persawahannya yang sudah mengering dengan cara dibakar. Tak disadari tiba-tiba api menjilat kepetak kebun tebu sebelah yang diketahui milik Rukani.

Rabu, 08 Agustus 2012

Foto Kebaran Gudang Tebu

Foto : Gudang pengolahan gula tumbu milik Tubi Iskandar (50) warga Kajar RT 03/4 Dawe Kudus yang terbakar. Kuruguian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Selain itu, satu pekerja mengalami sesak nafas akibat banyak menghirup asap kebakaran.


Foto : Kasi Tanggap Darurat BPBD Kudus, Rudi, (pakai baju biru) sedang memapah Suratman (59), warga Kajar RT 3 RW 3 Dawe pekerja gudang yang tak sadarkan diri akibat kebanyakan menghirup asap tebal kebakaran Gudang. Korban langsung dibawa ke Puskesmas Rejosari Dawe Kudus.

Jumat, 23 Maret 2012

MEJOBO - Hujan lokal disertai angin kencang yang terjadi jumat (23/3) sekitar 15.30 meninggalkan derita mendalam bagi penduduk tiga desa di wilayah Kecamatan Mejobo .

Kejadian itu mengakibatkan beberapa rumah penduduk Desa Hadiwarno, Kesambi dan Termulus rusak akibat tertimpa pohon tumbang dan terjangan angin kencang. Hembusan angin kencang juga menyapu genteng beberapa rumah warga porak poranda.

Peristiwa ini langsung mendapat perhatian serius pihak BPBD Kudus. Dalam pantauan Plt. Kepala pelaksana BPBD Kudus, Drs Kholid, MM dan Tim relawan BPBD Kudus, tercatat setidaknya ada puluhan rumah warga yang gentengnya berterbangan karena terjangan angin kencang itu. "Dari olah data lapangan yang kami konfirmasi ke Muspika setempat, banyak rumah warga yang gentengnya tersapu angin," jelas Kholid.

Senin, 05 Desember 2011

Seorang Pemuda Terseret Banjir Bandang

KALIWUNGU - Senin, (5/12). Hujan deras yang terjadi Sabtu (3/12), kemarin meninggalkan duka dalam bagi warga Kaliwungu Kudus. Pasalnya, saat terjadi hujan deras, aliran sungai Tunggul, masuk wilayah Nalumsari Jepara memakan korban tiga orang pemuda Papringan Kaliwungu Kudus. Dua korban berhasil diselamatkan, sementara satu dari ketiga pemuda yang terseret arus banjir itu nyawanya tak terselamatkan. Pemuda yang bernasib malang itu bernama Sugeng (35), warga Desa Papringan RT 06 RW 01, Kaliwungu Kudus.

Sabtu, 29 Januari 2011

NYEBRANG DI SUNGAI, PETANI TEWAS TENGGELAM

JEKULO - Jumat (28/1) kemarin benar-benar menjadi hari nahas bagi seorang petani yang sedang menyebrangi Sungai Ngutrip saat hendak pulang dari melakukan aktifitasnya di sawah. Lokasi sungai tersebut adalah masuk wilayah Desa Bulungcangkring Kidul tepatnya 500 m arah barat dari jembatan Gadu.

Sore itu sekitar pukul 17.00 wib sudah menjadi kebiasaan bagi para petani setempat yang hendak pulang dari sawah selalu menyebrangi sungai sebagai jalur alternatif untuk mempersingkat perjalanan menuju ke jalur darat. Namun tanpa diduga sebelumnya, sungai dengan kedalaman 3 meter yang dipenuhi sedimentasi endapan lumpur hingga 60 cm itu tiba-tiba menenggelamkan salah seorang petani hingga akhirnya tewas. Korban diketahui bernama Mulyadi bin Saridin (50), warga RT 01 RW 09 Bulungcangkring Jekulo Kudus.

Sabtu, 11 Desember 2010

SATGAS PBP AWALI EVAKUASI KORBAN BANJIR


UNDAAN - Hari ini Sabtu (11/12) tim Satgas PBP Kudus mengawali evakuasi perdana salah seorang wanita Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kudus yang terjebak banjir akibat limpasan sungai Wulan. Sekitar pukul 16.00 wib tim satgas dengan menggunakan perahu karet berhasil mengevakuasi seorang wanita berusia sekitar 50 tahun yang masih bertahan di dalam rumahnya. Kondisi rumah korban berada di sebelah lapangan Undaan Kidul, yang kini digenangi limpasan air dari sungai Wulan.

Kamis, 11 November 2010

KORBAN TENGGELAM DI SUNGAI WULAN



UNDAAN - Hari ini, Kamis (11/11) sekitar pukul 17.30 wib, warga Undaan Kidul kembali digegerkan dengan tenggelamnya seorang anak kelas VIII yang tercatat sebagai siswa MTs Nahdlotul Muslimin, Gang 13 Undaan Kidul. Korban diketahui bernama Bayu Murti Setiawan (12). Korban adalah anak dari pasangan Jamzuri (45) dan Rukati (40) , warga Undaan Kidul Gang 8 RT 07 RW 02 Undaan Kudus.

Peristiwa ini bermula ketika korban bersama temannya sedang asik bermain di bantaran Sungai Wulan, masuk wilayah Undaan Kidul Gang 8. Keterangan dari beberapa warga yang berhasil dihimpun tim dilapangan menyebutkan bahwa sekitar pukul 17.00 wib, korban bersama teman-temannya sedang bermain.

"Korban bermain seluncuran sendirian sedangkan temanya pada bermain sepak bola. Tanpa disadari, tiba-tiba korban terpeleset dan akhirnya tenggelam di sungai Wulan", terang Hadi Sucahyono, SIP kepala Desa Undaan Kidul saat ditemui di Puskesmas Undaan.

Mengetahui kejadian ini, teman korban pada berlarian dan memberi tahukan kepada warga sekitar. Upaya pencarian dilakukan bersama oleh warga setempat, tepat pukul 20.00 wib korban dapat ditemukan dan langsung dibawa ke Puskesmas Undaan untuk dilakukan pemeriksaan luar.

Hasil pemeriksaan pihak Puskesmas yang dilakukan oleh Pitri Pramusinto, AMK dan kawan-kawan menjelaskan bahwa tidak ada tanda-tanda luka dari benda tumpul yang mengenai korban. "Kejadian ini murni kecelakaan tenggelam", kata salah satu perawat. Korban mengeluarkan busa berwarna putih dari hidung dan bibir atas sebelah kanan lecet 2 cm.

Minggu, 31 Oktober 2010

GUDANG KRUPUK LUDES TERBAKAR


JATI - Nasib sial kini menimpa pengusaha krupuk asal Solo. Ia adalah bernama H. Sugiman (55) warga Desa Pasuruhan Lor RT 01 RW 05 Jati Kudus. Pasalnya sisa bara api dari kayu bakar yang dipakai memasak krupuk sore tadi, berbuntut menuai petaka. Gudang dan seisi peralatan proses pembuatan krupuk yang dirintis semenjak tahun 1980 silam, Sabtu (30/10) sekitar pukul 23.30 WIB ludes disapu sijago merah. Bangunan atap gudang juga tak luput dari keganasan api yang begitu cepat melumat dan membumbung keangkasa. Kobaran api dan kepulan asap membuat suami dari Hj. Rumini (50) panik.

Saat Sugiman hendak menyelamatkan barang miliknya yang dibantu oleh Asrikhin (40) dan Sugeng (37), malah ketiganya mengalami luka bakar. Namun luka bakar yang diderita mereka adalah luka bakar ringan. Barang-barang yang berhasil diselamatkan dievakuasi kerumah tetangga. Tampak dilokasi ada pakaian, kulkas, peralatan elektronik dan beberapa krupuk yang sudah dikemas kedalam plastik.

Meskipun demikian, Sugiman juga harus menanggung kerugian yang jumlahnya fantastis sekali. "Kira-kira taksiran kerugian yang dialami mencapai 100 juta", kata Liwon saat ditemui tim blogger dilokasi kejadian. Sementara itu, kobaran api yang membakar gudang krupuk milik Sugiman ini baru dapat dipadamkan sekitar pukul 01.00 WIB, Minggu (31/10) dinihari setelah mendapat bantuan pemadaman 2 unit mobil damkar dari PT. Djarum Kudus.


Selasa, 26 Oktober 2010

BANJIR BANDANG LANDA WONOSOCO, RATUSAN RUMAH PORAK PORANDA


UNDAAN- Akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Pegunungan Kendeng selama 1 jam, hari ini Selasa (26/10) mengakibatkan terjadinya banjir bandang di Desa Wonosoco Undaan. Menurut keterangan warga setempat, banjir kali ini adalah banjir bandang yang terjadi kali kedua dalam kurun waktu 40 tahun silam. "Kurang lebih 4o tahun lalu desa kami dilanda banjir semacam ini", ungkap Sandi.

Banjir bandang setinggi kurang lebih 1 meter ini masuk dipemukiman penduduk RT. 01, 02, 03, 04, RW. 01. Kiriman air bah dari Pegunungan Kendeng meluap setinggi 1 meter di Sungai Sendang. Banjir merangsek kepemukiman warga setengah jam, mulai pukul 13.00 s/d 13.30 WIB. Lebih dari 200 rumah warga diterjang amukan banjir, bangunan infrastrukturpun luluh lantah. Kejadian paling tragis terjadi di RT. 03 RW.01.

Dari pantauan di lokasi, setidaknya ada 4 rumah penduduk hancur akiban terkena banjir dan bongkahan material serta sedimentasi lumpur yang terbawa banjir. Satu diantara 4 rumah itu adalah milik Kepala Desa Wonosoco. "Banjir kali ini tidak kami duga-duga kedatangannya, sehingga kami terlena dalam mengantisipasinya", tambahnya.

Selain itu, akses jalan paving yang baru saja dibangun tampak porak poranda. Banjir juga melibas kandang bebek yang ada dibantaran Sungai Sendang. "Seluruh ternak bebek kami yang jumlahnya ratusan hanyut terkena banjir", keluh Sanuri. Beberapa lokasi tanaman padi juga porak poranda karena tergenang air. Tambak ikan dan lokasi bumi perkemahan Wonosoco juga tak luput jadi sasaran ektrimnya banjir bandang yang terjadi tadi siang.

Minggu, 17 Oktober 2010

MAYAT TANPA IDENTITAS MENGAPUNG DI SUNGAI JUWANA


JEKULO - Sesosok mayat tanpa identitas kemarin, Kamis (14/10) diketemukan oleh dua orang yang sedang mencari ikan. Lokasi ditemukannya mayat nahas ini tepatnya di Sungai Juwana, masuk wilayah Dukuh Tampung RT 3 RW 5, Desa Gondoharum Kecamatan Jekulo. Kedua orang penemu mayat adalah Sudi bin Kasiman (35) dan Sudar bin Kasiman. Sekitar pukul 11.00 WIB siang kemarin, kakak beradik tersebut menemukan sesosok mayat sudah dalam keadaan membusuk. "Kondisi mayat sudah mengeluarkan bayu busuk yang menyengat", terang keduanya.

Setelah mayat berhasil dievakuasi kelambiran sungai, pihak kepolisisn dari jajaran Polres Kudus melakukan visum dan olah TKP di tempat. Kemudian Tim Satgas PBP dibantu warga sekitar memasukkan jasad wanita nahas ini kedalam kantong mayat. "Mayat langsung kami kirim ke RSU Kudus", terang Komandan satgas, Atok D.B., SE. Selain itu, Atok juga menghimbau bagi masyarakat yang merasa kehilangan keluarganya segera saja melapor dan menghubungi pihak kepolisian. Hingga berita ini diturunkan, identitas mayat belum bisa teridentifikasi.

Diperkirakan jasad wanita malang ini sudah mengapung sekitar 6 hari yang lalu. Adapun ciri-ciri mayat tersebut adalah berjenis kelamin perempuan, umur diperkirakan 58 tahun dan kondisi rambutnya sudah beruban. "Saat kami melihat mayat ini, kondisinya mengenakan jarik dan kebaya putih bermotif bunga kondisi rambutnya sudah beruban", jelas Sudi saat ditemuai oleh Tim Satgas PBP Kudus di tempat penemuan.


Senin, 11 Oktober 2010

8 ORANG JADI KORBAN LEDAKAN GAS LPG 3 KG

JATI - Ledakan gas LPG 3 kg kembali menelan korban. Peristiwa ini terjadi di rumah Suyanto 55 tahun, warga Getaspejaten 03 / III Jati Kudus. Kejadian ini bermula dikala korban hendak mengganti gas LPG di rumahnya yang saat itu tengah berlangsung memasak untuk persiapan hajatan khitan.

Bukan untung yang didapat, malah nasib sial kini harus dideritanya. Pukul 18.30 (10/10) saat korban diberitahu oleh juru masak yang ada di dapur, bahwa isi gas LPG telah habis, maka ia langsung bermaksud untuk mengganti dengan LPG yang baru dibeli dari toko. Namun tiba-tiba saja dikala korban membuka tutup tabung gas LPG, kepulan asap berwarna putih disertai bau gas yang menyengat kontan membumbung tinggi dan memenuhi ruangan dapur.

Korban sudah berusaha untuk melakukan tindakan penyelamatan dengan mematikan semua instalasi listrik di dapur dan melempar tabung gas kedalam air kulah, akan tetapi upaya penyelamatan ini tak membuahkan hasil. Selain itu korban juga berupaya untuk menceburkan diri ke dalam kulah, namun malah korban mengalami luka bakar cukup serius.

Kuat dugaan ledakan ini dipicu adanya bocoran gas yang masuk dalam stok kontak aliran listrik, sehingga memicu adanya ledakan hebat. Tak tanggung-tanggung kejadian ini memakan korban sebanyak 8 orang, dengan menderita luka bakar, termasuk di dalamnya ada pasutri beserta anaknya. Kedelapan korban adalah Suyanto (55), Rubiah (40), Budianto (42), Rusman (36), Kusni (40), Darmisih, (32) Amrul (7) dan Sona (30). Budianto, Kusni adalah pasutri yang ikut menjadi korban ledakan gas pada kejadian itu sedangkan Amrul adalah anak dari buah pernikahan dari keduanya.

Korban yang mengalami kebaran berat, kesemuanya dilarikan ke rumah sakit Mardi Rahayu, mereka adalah Suyanto, Rubiah dan Rusman. Sedangkan kelima korban lainnya yang menderita luka bakar ringan kesemuanya dirawat di Badan Rumah Sakit Umum Daerah Kudus.

Atas kejadian ini Atok D.B., SE selaku Komandan Satgas PBP menghimbau kepada warga agar lebih waspada dalam menggunakan tabung gas LPG, khususnya tabung yang beratnya 3 kg. "Saya mengharapkan kepada masyarakat agas lebih mengutamakan unsur keselamatan dalam menggunaan gas LPG, bila tercium bau menyengat akibat bocornya gas, segera saja lakukan penetralan ruangan dan jangan sesekali menyalakan api maupun listrik di lokasi," himbaunya. Selain itu langkah antisipasi yang perlu dilakukan adalah melakukan tes kebocoran tabung gas dengan cara menyelumpkan ke air dan mengontrol katup kelep pada tabung sebelum digunakan serta memakai selang dan regulator yang sesuai standar SNI.

Senin, 20 September 2010

DUA PEKERJA TEWAS DI DALAM SUMUR


BAE – Selang sehari setelah peristiwa bunuh diri dengan cara menceburkan diri kedalam sumur, yang dilakukan Haryani, (19/9), warga Kedungdowo Kaliwungu Kudus hari ini Senin (20/9), korban mati didalam sumur kembali terjadi. Namun peristiwa ini adalah kecelakann kerja, bukan aksi bunuh diri.

Bukan untung yang didapat, namun nasip siallah yang menimpa kedua pekerja yang sedang menguras sumur tua milik Sholeh, Purworejo 01/II Bae Kudus. Dua pekerja yang bernasib nahas itu adalah Kusumo Eddy Purwanto (31) dan Selamet (50), keduanya adalah penduduk Dukuh Krajan Desa Bae RT 03 RW 01 Kecamatan Bae Kudus.

Kedua korban mendapatkan order pekerjaan untuk menguras sumur milik Sholeh. Dalam membantu pekerjaan dan untuk mempermudah serta mempercepat pengurasan keduanya menggunakan mesin diesel untuk menyedot air sumur. Namun disaat mesin sedang bekerja, keduanya masih berada dikedalaman sumur. Kuat dugaan saat kondisi udara didalam sumur pengap yang diakibatkan dari asap pembakaran diesel mengakibatkan sirkulasi oksigen tidak normal sehingga keduanya tak bisa bernafas dan akhirnya meninggal dunia. Atas peristiwa ini, masyarakat setempat, lewat unsur muspika Kecamatan Bae memberitahukan kejadian ini kepada Komandan Satgas PBP yang juga Kasi Linmas pada kantor Kesbangpol dan Linmas Kudus, Y. Atok D.B., SE.

Dari laporan tersebut, Atok langsung menurunkan personil Satgas untuk melakukan tindakan evakuasi terhadap kedua korban. ”Meski perbekalan tabung oksigen tidak kami miliki, kami tetap mengupayakan tindakan evakusi dengan berbekal skill individu yang dimiliki oleh personel Satgas PBP”, jelasnya. Tak ada rotan, akarpun jadi, begitu kira-kira peribahasa yang dijadikan pijakan tim Satgas PBP Kudus dalam mendarma bhaktikan pada masyarakat.

Setelah sampai TKP, Gundul dan beberapa anggota Satgas yang lain langsung melakukan persiapan untuk melakukan evakuasi. Setengah jam kemudian, Gundul berhasil menaikkan kedua korban dan langsung dimasukkan kedalam kantong mayat untuk selanjutnya dibawa ke Puskesmas Bae guna dilakakukan pemeriksaan luar oleh dokter puskesmas setempat.

Minggu, 19 September 2010

HARYANI BUNUH DIRI DI HARI FITHRI


Kaliwungu - Suasana Idul Fitri yang seharusnya diisi dengan suka cita, canda dan tawa bersama keluarga, kini pupus dilalui oleh warga Kedungdowo. Pasalnya hari ini, Minggu (19/9) sekitar pukul 15.00 WIB, saat masyarakat masih dalam suasana merayakan Idul Fitri 1431 H dihari yang ke-10, tiba-tiba warga digegerkan dengan adanya peristiwa kematian seorang perempuan yang mengakhiri hidupnya dengan jalan menceburkan diri kedalam sumur.

Ia bernama Haryani (51), warga RT 01 RW 01 Dukuh Krajan Desa Kedungdowo Kecamatan Kaliwungu Kudus. Perempuan dengan tiga anak ini mengakhiri hidupnya dengan cara tak wajar. Sumur dengan kedalaman kira-kira 15 m, milik Khamimah warga RT 01 RW 01 Kedungdowo yang semestinya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari malah ia jadikan tempat untuk mengakhiri nyawanya dengan jalan menceburkan diri kedalam sumur. Karena kehabisan oksigen dan terkena benturan akhirnya Haryani meregang nyawa di kedalaman sumur.

Peristiwa ini sempat membuat panik bagi keluarga dan warga sekitar. "Dalam kesehariannya, Hartini tak menunjukkan gelagat ada masalah yang membebani hidupnya dan dalam keseharian, ia juga berprilaku baik serta wajar-wajar saja," kata seorang warga yang namanya tak mau disebut. Namun atas kesigapan keluarga dan warga setempat, sekitar pukul 17.15 jasad Haryani akhirnya berhasil dievakuasi.

Tampak hadir di TKP beberapa personil Satgas PBP Kudus beserta Komandan Satgas, Y. Atok DB, SE. Dalam keterangannya, Atok mengakabarkan bahwa peristiwa ini langsung dilaporkan kepada Bupati Kudus, Mustofa. "Kemungkinan besuk pagi, Senin (20/9) Bupati akan datang kekeluarga untuk melayat dan tasliyah (menghibur -red) pada keluarga korban", tandasnya.


Jumat, 23 Juli 2010

SATGAS PBP KUDUS DILATIH DI BANDENGAN


Kudus - Selama dua hari kemarin, Rabu dan Kamis (21-22/7), sebanyak 40 personel Satgas PBP Kudus dilatih kemampuannya dalam melakukan tindakan penanganan dan pertolongan kebencanaan. Hal ini dilakukan oleh Kantor Kesbangpol dan Linmas sebagai langkah nyata dalam menghadapi kebencanaan yang terjadi di Kabupaten Kudus. "Meski eksistensi Satgas PBP Kudus telah mendapatkan apresiasi dari BPBD Jawa Tengah, kita harus terus meningkatkan skil dan kemampuan individu para personil Satgas PBP dalam menghadapi segala macam situasi kebencanaan", terang Ali Rifai dalam memberikan pembekalan saat apel pemberangkatan di halaman Kantor Kesbangpol dan Linmas yang lama. Lebih lanjut, Kakan Kesbangpol dan Linmas juga mengharapkan agar semangat jiwa relawan bagi anggota Satgas PBP terus dikedepankan dengan dalih unsur pertolongan dan pengabdian pada masyarakat.

Pelatihan kali ini dilakukan dengan desain beda dari palatihan tahun yang lalu. Dalam pelaksanaan palatihan ini, dikemas dalam bentuk out door semuanya. Satgas PBP dibekali beberapa meteri terkait pertolongan pertama dari PMI Kudus, pemadaman api dari tim PMK PT Pura Kudus dan pengenalan alat selam, tehnik penyelaman dan kemampuan pertolongan didalam air dibawah bimbingan tim BPBD Jawa Tengah.

Ditengah terik matahari yang begitu panas, semangat para peserta tak kendor sedikitpun. Hal ini terbukti pada pelaksanaan materi dan praktik yang dilakukan pada hari kedua (22/7). Dengan semangat kebersamaan 40 personil memperagakan teknik pertolongan air di tengah laut pantai Bandengan Jepara. Dengan pemanduan Tim SAR BPBD Jawa Tengah dibawah komando Juwardi, Satgas PBP Kudus kelihatan begitu terampil dan lihai dalam melakukan berbagai manuver pertolongan air sebagaimana diinstruksikan oleh para instruktur.

Sementara itu, disela-sela latihan hari kedua, Tim Satgas mendapatkan kunjungan dari senator Kota Keretek. Tampak hadir dalam rombongan H. Agus Darmawan, Wakil Ketua DPRD dan Budiono, SEI serta sejumlah anggota Komisi A DPRD Kabupaten Kudus. Pada prinsipnya para dewan yang hadir dan menyaksikan pelatihan ini memberikan apresiasi dan dukungan semangat bagi Satgas PBP, ungkap Atok, D.B., SE disela-sela latihan.

Dalam kesempatan memberikan sambutan upacara penutupan latihan, Komandan Satgas yang juga Kasi Linmas pada Kantor Kesbangpol dan Linmas, Y. Atok D.B., SE berencana kedepan untuk memberikan pelatihan lanjutan khusus penyelaman. "Saya berusaha agar tahun depan peralatan selam bisa direalisasikan sehingga kedepan kita akan melakukan latihan lanjutan khusus penyelaman bawah air", harapnya. Sekedar mengingatkan kepada publik, kondisi saat ini peralatan Satgas PBP Kudus masih banyak kekurangannya dan masih jauh dari SOP (Standar Operasional Pelaksanaan) dalam melakukan tugas-tugas dilapangan, terlebih paralatan selam.

Selasa, 25 Mei 2010

PAPARAN PENANGGULANGAN KEBENCANAAN OLEH SATGAS PBP

Kudus- (23/5). Kiprah Tim Satgas Penanggulangan Bencana Kabupaten Kudus tidak hanya eksis dan pandai dilapangan, tapi selain itu juga dituntut untuk lihai dalam memberikan pendidikan kebencanaan bagi masyarakat secara umum. Hal ini dilakukan oleh Satgas PBP dalam memberikan paparan materi tentang kebencanaan dan penanggulangannya di kabupaten kudus.

Mengingat hal ini dipandang efektif sebagai langkah nyata sebagai kegiatan preventif, tepat pada hari Minggu (23/5) beberapa personel satgas dilibatkan untuk memberikan pendidikan kebencanaan berbasis masyarakat di Desa Bulungcangkring, Jekulo. Kegiatan ini berjalan mulai Sabtu hingga Minggu kemarin dengan melibatkan 60 orang peserta. Kegiatan terselenggara atas kerjasama antara Yayasan Pamerdi Luhur dengan Karang Taruna desa setempat.

Dalam kesempatan ini sempat tercetus gagasan untuk membentuk keanggotaan desa siaga. Selain itu juga terpetakan lokasi rawan banjir dan genangan baik yang bersumber dari limpasan air dari lereng Muria maupun Sungai Juwana. Selain itu, Hohok, Tim Satgas yang memberikan paparan, menjelaskan bahwa peran serta dan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam penanggulangan bencana mutlak diperlukan. "Penanganan bencana tidak mutlak menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab masyarakat bersama", cetusnya.

Senin, 24 Mei 2010

KESETRUM LISTRIK, NYAWA MELAYANG


JEKULO- Gara-gara benahi listrik, Rohmat bin Marwi (40) warga Pulutan RT 03 RW 06 Jekulo, kembali menjadi korban sengatan arus listrik hingga tewas seketika. Peristiwa ini terjadi tepat pukul 12.30 wib, saat korban membenahi stop kontak instalasi listrik dirumahnya sendiri. Korban meninggalkan seorang istri dan 3 orang anak.

Dari beberapa informasi yang terhimpun, saat itu korban sedang membenahi stop kontak yang ada dirumahnya, karena beberapa hari aliran listrik sering mengalami konsleting, korban mencoba untuk mengecek satu-persatu arus listrik hingga sampailah pada titik stop kontak. Dugaan konsleting listrik bersumber di stop kontak.

Setelah diketehui sumbernya, Rohmat lalu bergegas untuk melakukan pembenahan stop kontak dengan bekal pengalaman yang dimiliki. Namun, saat korban melakukan pembenahan listrik, rupanya ia lalai untuk mematikan arus listrik terlebih dahulu, jadinya bukan hasil yang didapat, tetapi Rohmat malahan kesetrum hingga meregang nyawa dan akhirnya meninggal dunia.

KALI MELIMPAS HINGGA KANTOR KECAMATAN JEKULO


JEKULO- Hujan deras yang terjadi Minggu ( 23/05) sekitar pukul 19.00 hingga 21.00 kemarin malam mengakibatkan arus air di sungai Domas, sebelah timur kantor Kecamatan Jekulo, melimpas kepermukiman warga Dukuh Krajan RT 06 RW 01 Jekulo Kudus. Limpasan juga meluber kearah barat sampai kantor Camat Jekulo. Selain memporakporandakan tanggul yang terbuat dari bongkahan tanah dalam karung plastik, limpasan air tersebut juga membawa material lumpur hasil sedimentasi sungai.

Dari pantauan lapangan yang dilaukan oleh Kepala Linmas pada Kantor Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Kudus, Atok Darmo Broto, SE bersama beberapa anggota Satgas PBP Kudus terlihat bahwa genangan air yang melimpas cukup deras sekali. Hal ini dibuktikan dengan berserakannya lumpur dan rusaknya tanggul dibantaran sungai. Jarak tanggul yang terlimpasi air ini sepanjang 300 m, tepatnya dari samping rumah Didik Prasetyo hingga rumah Lestari, warga RT 06 RW 01, Krajan Jekulo.

Penuturan Supriyadi (60), ketua RT 06 RW o1 menyebutkan bahwa tanggul ini pernah dilakukan peninggian dengan tumpukan tanah dalam karung dengan menelan dana 1,2 juta dari swadaya masyarakat setempat, namun keberadaan tanggul ini, sekitar pukul 23.00, Minggu malam kemarin tak sanggup menahan derasnya arus sungai hingga mengakibatkan air melimpas kepermukiman warga. Selain itu tembok rumah Ibu Lestari juga jebol. "Warga mengharapkan agar ini mendapatkan penanganan serius dari pemerintah, sukur-sukur pembuatan tanggul segera terealisasikan," pinta ketua RT.

Disela-sela melakukan monitoring, Atok juga menyerahkan 200 buah karung plastik dan 6 dus air mineral untuk menstimulus warga dalam kerja bhakti pembenahan tanggul. Tampak hadir ditengah-tengah rombongan unsur muspika, dari Kasi Trantib Kecamatan Jekulo, Hadi Waluyo, dan beberapa anggota Koramil Jekulo.

Minggu, 09 Mei 2010

Kedung Gong Kali Gelis Makan Korban Lagi

Minggu, 09/05 jam 11.30 wib, kedung Gong Kali Gelis, yang berada di Desa Rahtawu kembali memakan jiwa lagi, kali ini giliran pelajar yang jadi korban, Moh Zaim Muhyinudin Bin Puryoko (15 th). warga Desa Jepang rt.01/03 Mejobo, tapi bertempat tinggal di ds panjunan RT.01/01, Kota, Kudus.

Menurut saksi Muh Naufal dan Alif Wildan warga Nalumsari yang merupakan teman korban, mereka sudah diperingatkan oleh warga sekitar utk tidak mandi di tempat itu, namun korban ngeyel, korban datang kelokasi bersama 11 teman. Mungkin karena arus deras, dan korban kurang pandai berenang, ahkirnya korban tenggelam, sedang muh naufal berusaha untuk menolong, tapi tidak mampu, karena korban kehabisan nafas, ahkirnya meninggal, mayat korban langsung ditemukan setengah jam kemudian sekitar jam 12.00.wib.

Setelah diberitahu Sekcam Gebog, Kasi linmas Kab.Kudus Atok D.B langsung menerjunkan Anggotanya kelokasi, tapi korban sudah diketemukan oleh warga sekitar, setelah dilakukan otopsi dinyatakan korban meninggal murni karena tenggelam kehabisan oksigen. sementara itu korban disemayamkan di Desa Panjunan.

Rabu, 07 April 2010

DIKETEMUKAN MAYAT TANPA IDENTITAS


JEKULO - Rabu (07/4), masyarakat kembali digegerkan penemuan sesosok mayat tanpa identitas di Sungai Jeratun, tepatnya diseputaran arah timur dari jembatan Gadu, Jekulo, Kudus. Kala itu, tepat pukul 10.00 wib, seorang pencari ikan yang sedang melakukan aktifitas, tiba-tiba menemukan sesosok mayat laki-laki terapung persis dilokasi diketemukannya pasangan suami istri korban banjir, Nderin dan Biah, beberapa bulan lalu.

Atas peristiwa ini, sang pencari ikan yang enggan menyebut namanya langsung melapor kewarga sekitar hingga ke muspika setempat. Menurut keterangan Kapolsek Jekulo, AKP Muhaimin, saat dihubungi di TKP setelah dilakukannya outopsi terhadap mayat korban, diperoleh keterangan bahwa, "Ciri-ciri mayat tersebut adalah berjenis kelamin laki-laki, usia diperkirakan 25 tahun, tepat di dada kanan korban ada sebuah tato", terang Kapolsek.

Sementara itu, diduga mayat ini adalah korban pembunuhan berencana. Tragisnya dua jari kaki kiri korban terputus dan leher korban sobek sepanjang 17 cm akibat sabetan senjata tajam. "Kuat dugaan mayat ini adalah korban pembunuhan yang sengaja dibuang pelakunya di sungai Jeratun dengan cara dihabisi terlebih dahulu, setelah itu mayat korban dibuang ke sungai dengan cara dilempar dari atas jembatan," timpal Muhaimin.

Hingga berita ini diturunkan, identitas korban belum juga diketahui. Untuk itu diharapkan agar masyarakat yang merasa kehilangan keluarganya dengan ciri-ciri di atas untuk bisa berhubungan dengan pihak kepolisian.


Selasa, 30 Maret 2010

GILIRAN SUNGAI NGELO MAKAN KORBAN

BAE - Hari ini Selasa, 30 Maret 2010, korban tenggelam yang kesekian kalinya kembali berhasil ditemukan oleh Tim Satgas PBP Kudus. Kali ini giliran Sungai Ngelo, Bae, Kudus yang meminta tumbal nyawa anak manusia.

Korban adalah Basemi Binti Munawar (60), warga Desa Rendeng RT 02 RW 03 Kecamatan Kota Kabupaten Kudus. Menurut keterangan beberapa saksi ditempat peristiwa meneyebutkan bahwa korban diduga terpeleset saat hendak melintas diatas sungai. "Dalam jarak kurang lebih 300 m, dari lokasi terpelesetnya korban, saya melihat ada sehelai kain terapung diatas sungai. Setelah saya coba untuk melihatnya, ternyata adalah mayat", Tutur Aditya Kusianto.

Pria umur 19 tahun ini juga menjelaskan bahwa saat dirinya melihat hal aneh ini, ia langsung memberitahukan kepada temannya, Noor Abadi (39) warga Karangbener, Bae, Kudus. Setelah keduanya mengetahui peristiwa ini, merekapun langsung menghubungi Komandan Satgas PBP Kudus, Atok darmo Broto, SE.

Atas laporan ini, Atok langsung menerjunkan anak buahnya untuk melakukan evakuasi korban di tempat peristiwa kejadian. Selang beberapa jam dari informasi yang diterima, tim berhasil melakukan tugasnya dalam melakukan evakuasi terhadap korban tenggelam Sungai Ngelo. "Saat ini mayat korban sudah diantar ke keluarganya di Desa Rendeng RT 02 RW 03 Kecamatan Kota Kabupaten Kudus", terangnya.

Rabu, 24 Maret 2010

ASIK MANDI, SISWA MTs TENGGELAM DI SUNGAI GELIS


BAE - Rabu (24/3), keasikan mandi di sungai Gelis, siswa MTs Matholiul Huda Bakalan Krapyak, Kaliwungu, Kudus kini harus merelakan nyawanya melayang di sungai Gelis. Korban adalah Saiful Yudi Prasetyo (14), putra empat bersaudara dari pasangan Sutrisno (45) dan Sriasih (40) warga Dukuh Grogol RT 5 RW 3, Bakalan Krapayak Kaliwungu Kudus.

Peristiwa ini terjadi saat korban bersama tiga rekannya sedang mandi di sebuah kedung sungai Gelis di wilayah Dukuh Pondok Desa Bae Kudus. Menurut keterangan rekan korban yang tidak mau disebut identitasnya, mereka bersama-sama mandi disungai sekitar pukul 14.30. Saat keasikan mandi, tiba-tiba korban teriak minta tolong, karena dirinya merasa tertarik oleh sesuatu didalam kedung. Kuat dugaan ini adalah tarikan arus pusaran air yang berada didalam kedung tersebut. Setelah itu, korban langsung tenggelam. Teman mandi korbanpun langsung menepi dan meminta tolong warga setempat.

Upaya pencarian korban dilakukan oleh Tim Satgas PBP Kudus dibantu dengan warga setempat. Dengan tehnik penyelaman dan penjangkaran, akhirnya siswa kelas VIII disebuah MTs Matholiul Huda ini tepat pukul 19.00 wib dapat ditemukan. Jasad korban dimasukkan kedalam kantong mayat dan langsung diantar kerumah duka dengan memakai mobil operasional Satgas PBP Kudus.

Tampak hadir dalam upaya evakuasi korban, Kasi Linmas yang juga Komandan Satgas PBP Kudus, Atok Darmo Broto, SE. Dalam kesempatan ini, Atok menjelaskan bahwa dirinya berserta tim langsung melakukan evakuasi dilapangan saat mendapatkan laporan warga. "Kami juga membawa peralatan untuk evakuasi", imbuhnya.

Selasa, 23 Maret 2010

GADIS LUMPUH TERBAKAR


Jekulo - Nasib nahas kini kembali lagi menimpa warga masyarakat Kudus. Setelah beberapa bulan lalu dihebohkan dengan peristiwa orang hanyut dan korban tenggelam, siang kemarin, Senin (22/3), giliran peristiwa kebakaran hebat mengekibatkan kerugian nyawa dan harta benda kembali menghiasi sederetan catatan peristiwa memilukan.

Musibah kebakaran ini terjadi di rumah keluarga Sakirun (60), warga RT 04 RW 04, Dukuh Kali Ulo, Gondoharum, Jekulo, Kudus. Kebakaran yang diakibatkan oleh sisa bara api dari "pawon" tempat memasak keluarga kurang mampu ini. Selain meluluhlantahkan bangunan rumah seisinya juga merenggut nyawa anak kesepuluh dari pasangan Sakirun dan Jumarsih bernama Nita Kusriani (20). Nita adalah gadis malang yang semenjak lahir telah ditakdir sebagai penyandang lumpuh permanen.

Dari berbagai informasi yang berhasil dihimpun, kebaran terjadi kira-kira pukul 12.00 siang, saat itu pemilik rumah, Sakirun, sedang keladang untuk melakukan aktifitas bertani. Tanpa disadari, bara api dari kayu bekas sisa memasak yang sudah dipadamkan dengan siraman air, tiba-tiba hidup kembali. Kontan saja jilatan si jago merah dari "pawon" langsung merangsek ke tempat tidur Nita Kusriani yang berdekatan dengan dapur tersebut. Kasur dan tempat tidurnya ludes tak tersisakan sedikitpun. Selain itu, semua isi bangunan rumah juga habis disikat oleh amukan api.

Saat api padam, Nita ditemukan dengan keadaan beberapa anggota badannya sudah tidak dapat terlihat wujudnya. Sebagian besar badan korban sudah menjadi arang. Akibat kebaran ini, taksiran kerugian materi mencapai 8,5 juta. Terdiri dari uang tunai 4 juta dan padi hasil pertanian yang diperkirakan mencapai 4,5 juta.

Kamis, 18 Maret 2010

EPILEPSI KAMBUH, KUSWATI TENGGELAM ....!


JEKULO - Kamis (18/3), sebuah nasib tragis menimpa perempuan paruh baya yang sedang mencari rumput di bantaran sungai Madat, Pladen, Jekulo. Sudah jatuh ketimpa tangga, begitu pribahasa yang patut disinonimkan dengan peristiwa yang menimpa Kuswati (40) warga Dukuh Njawek, Desa Pladen RT 03 RW 05, Kecamatan Jekulo, siang ini sekitar pukul 11.00 wib ditemukan tenggelam di sungai Madat.

Korban adalah seorang pencari rumput. Biasanya Korban tepat pukul 09.oo wib pagi sudah pulang dari mencari rumput. Akan tetapi saat adik korban, Karmin, menunggu-nunggu hingga pukul 10.00 wib, korban tak kunjung kembali pulang. Perasaan karmin mulai tak enak, hatinya juga gundah dan teringat-ingat pada ucapan terakhir yang disampaikan korban padanya, saat hendak pergi mencari rumpu.

Kebiasaan korban sebelum berangkat mencari rumput, ia selalu berpamitan pada sang adik yang tinggal serumah dengan korban, ia bernama Karmin. Namun tiba-tiba saja ada sesuatu hal yang dirasa janggal di hati sang adik. Logat bicara pamitan korban tak seperti hari-hari biasa, "Min aku tak golek suket yo, Min. Mengko susulo", tiru Karmin pada kalimat terakhir yang disampaikan korban saat berpamit mau mencari rumput. Biasanya korban pukul 09.oo wib pagi sudah pulang, namun hingga pukul 10.00 wib, ia tak kunjung pulang.

Karmin pun langsung memutuskan untuk mencari sang kakak ke lokasi biasanya yang ia jadikan tempat mencari rumput. Sesampai dilokasi dimaksud, alangkah kagetnya, Karmin menemukan sang kakak sudah dalam keadaan terapung di sungai. Seketika itu, Karmin berteriak dan minta tolong pada seseorang yang kebetulan ada salah satu anggota Satgas PBP Kudus yang sedang melakukan monitoring pemantauan wilayah, ia adalah Priyo Nugroho.

Atas peristiwa ini, Priyo langsung berkoordinasi dengan posko induk yang ada di kabupaten untuk memperoleh bantuan anggota dan peralatan evakuasi. Atas kejadian ini, Tim Satgas PBP Kudus langsung diterjunkan untuk melakukan evakuasi. Namun, saat tim sampai di tempat peristiwa, nyawa Kuswati sudah tidak tertolongkan. "Kami langsung menerjunkan anggota ke lokasi peristiwa untuk melakukan evakuasi dan pertolongan", Terang Komandan Satgas PBP, Atok DB., SE., saat ditanya koresponden blogger.

Sementara itu penuturan adik korban, Karmin (36), diperoleh keterangan, bahwa setiap pagi, korban menjalani rutinitas mencari rumput di bantaran sungai ini untuk memberi makan ternak kambing yang ia pelihara. Namun tak diduga, penyakit epilepsi korban tiba-tiba kambuh saat sedang mengais rumput tepat dibantaran sungai. Korban mengalami kejang-kejang dan terpental ke dalam air hingga mengakibatkan kehabisan oksigen di dalam air. "Kuat dugaan saya, gara-gara epilepsi kakak kambuh inilah yang menjadikan ia tidak dapat bernafas hingga menyebabkan tenggelam dan meninggal dilokasi," Tandas Karmin pada Tim Satgas PBP dilokasi peristiwa.


Sabtu, 06 Maret 2010

TANGGUL KETANJUNG TERLIMPASI AIR


UNDAAN - Jum'at (5/3) pukul 23.00 Wib Tim Satgas PBP Kudus mendapatkan laporan terkait adanya ketinggian kiriman air di sungai Wulan. Laporan salah seorang warga Undaan menuturkan dari pantauan pos jaga Wilalung diperoleh informasi bahwa ketinggian air saat ini mencapai ambang batas normal. Sehingga hal ini patut menjadikan perhatian masyarakat diwilayah Kabupaten Kudus, khususnya Kecamatan Undaan.

Laporan tersebut langsung mendapat respon serius dari Komandan Satgas PBP Kudus, Y. Atok Darmo Broto, SE. Tepat pukul 23.00 Wib sang komandan langsung menerjunkan beberapa personel Satgas PBP Kudus untuk melakukan monitoring ke lokasi dimaksud. Setelah melakukan pemantauan dibeberapa titik rawan terjadinya "tanggul jebol", tim giliran merangsek menuju Desa Ketanjung, masuk wilayah Kecamatan Karanganyar, Demak.

Hal ini dimaksudkan karena dilokasi ini terdapat sebuah tanggul yang patut menjadi kewaspadaan bagi masyarakat Kudus. Karena arus buangan aliran air dari pintu tanggul tersebut menuju ke wilayah Desa Ngemplak, Undaan, Kudus. Temuan tim mengagetkan sekali, karena posisi tanggul yang ketinggiannya diperkirakan mencapai 8 m ini, saat dilakukan pantauan, telah terlimpasi oleh arus air dari sungai Wulan. "Ini sangat berbahaya sekali, bila debit air tidak kunjung surut, akibatnya bisa berdampak sitemik pada wilayah Kudus" , seloroh Wafa, salah seorang anggota Satgas PBP.

Sementara itu, perlu diketahui bahwa tanggul tersebut sekitar 5 bulan yang lalu baru saja selesai diadakan pembenaan oleh Dinas Pengairan Provinsi Jawa Tengah. Namun kondisi kontur tanahnya yang kurang labil, diawal Januari 2010 kemarin, hujan deras dan ketinggian debit air mengakibatkan tanggul tersebut tergerus air, sehingga tim Satgas PBP Kudus dibantu masyarakat sekitar melakukan kerja bhakti pembenahan tanggul dengan cara memberi pengaman tanggul dengan terpal dan bongkahan-bonghkahan tanah yang dikemas kedalam karung.

Atas peristiwa ini, masyarakat diminta untuk selalu waspada dan proaktif untuk segera lepor kepada pihak yang berkompeten, baik muspika setempat maupun ke tim Satgas PBP Kudus, bila suatu saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. "Kami harapkan masyarakat selalu waspada dan aktif dalam pemantauan ini, sehingga kami bisa sigap dalam melangkah", Ujar Atok disela-sela pemantauan di atas tanggul "Ketanjung" tadi malam.

Sabtu, 27 Februari 2010

DEPUTI KUNJUNGI SATGAS PBP KUDUS


KOTA - Kamis (25/2) Tim Satgas PBP Kudus kedatangan tamu istimewa dari Deputi Penanggulangan Bencana Pusat dan BPBD Provinsi Jawa Tengah. Tim beranggotakan 4 orang.

Dalam kesempatan ini, selain mengadakan sidak kelengkapan peralatan satgas, Deputi juga menyinggung tentang kesiapan berdirinya Badan Penanggulangan bencana Daerah di Kabupaten Kudus. Dialog antara tim dengan Kepala Kentor Kesbangpol dan Linmas, Kasi Linmas, Camat Kaliwungu dan Tim Satgas PBP Kudus membahas seputar hal ini. Ali Rifai, SH., MH., menjelaskan bahwa selama ini pijakan kegiatan satgas baru mengacu pada perbup Nomor : 30 Tahun 2009 Tentang BPBD Kudus. Untuk pendirian BPBD sampai saat ini masih menunggu berbagai kajian-kajian.

Deputi menyarankan, apabila sebuah daerah tertentu menjadi langganan bencana setiap tahun, dan proses penanganannya tidak bisa dilakukan secara simultan dan terintegrasi, lebih baik daerah tersebut (termasuk Kabupaten Kudus) segera saja membentuk berdirinya Badan Pananggulangan Bencana Daerah sebagaimana telah diamanatlam oleh undang-udang. Hal ini dimaksudkan agar penanggulangan bencana dapat berjalan rapi, terkoordinasi dengan baik dan tidak tumpang tindih serta saling lempar tanggung jawab antar satuan kerja dilingkup SKPD masing-masing.

"Jangan sampai bila terjadi bencana, terkesan sering meminta-minta bantuan terus pada Badan Penanggulangan Bencana, baik pusat mapun provinsi. Kesannya daerah tidak siap, namun bila sudah ada BPBD semuanya akan dapat teratasi dengan mudah. Sebab dari kesiapan personil, penganggaran dan sarana pendukung lainnya bisa dianggarkan dari negara baik bersumber dari APBD maupun APBN"' jelasnya.

Setelah usai melakukan inspeksi dan dialog di markas Satgas PBP Kudus, Jalan Simpang Tujuh No. 1 Kudus, tim Deputi melanjutkan kunjungan lapangan. adapun lokasi yang dipilih adalah peninjauan dan pemantauan volume debit aliran banjir dan arus air di Desa Tanggulangin, Jati, Kudus. Hal ini dilakukan karena lokasi ini termasuk sentra perhatian publik dalam terjadinya banjir untuk daerah sekitarnya, termasuk wilayah Kecamatan Undaan dan Kaliwungu.

Sambil melakukan pemantauan diatas jembatan Tanggulangin, Tim Deputi tak ketinggalan memberikan ucapan sukses kepada Tim satgas PBP Kudus lewat Komandan Satgas yang juga Kasi Linmas pada Kantor Kesbangpol dan Linmas, Atok Darmo Broto, SE. "Kami bangga dan memberikan apresiasi pada kalian semua yang telah berjuang terus menerus tanpa mengenal waktu untuk melakukan kegiatan PBP di Kudus. Semoga semuanya bisa sukses", pujinya.


Sabtu, 20 Februari 2010

JASAD SUMINI DITEMUKAN


PATI - Setelah menguras tenaga dalam pencarian korban bunuh diri di Waduk Gembong, Jum'at (19/2) dini hari, akhirnya jasad Sumini, Warga Klakahkasihan 3/I, Gembong Pati, berhasil ditemukan oleh Tim Satgas PBP Kabupaten Kudus.

Dalam penemuan ini, Satgas PBP juga dibantu tim gabungan yang terdiri dari SAR Kudus, SAR Pati dan Basarnas Jepara. Kagigihan dan kerja keras tim akhirnya jasad Sumini dapat diketemukan pada hari ini pukul oo.o5 Wib.

Jenazah korban langsung diantar kerumah duka pagi dini hari itu juga, dengan memakai mobil operasional Satgas PBP Kudus. Sesampai dirumah keluarga korban, tim disambut haru oleh para keluarga dan sanak kerabatnya. Atas peristiwa ini, pihak keluarga telah menerima dengan ikhlas. Sekedar mengingatkan, Sumini melakukan aksi nekat bunuh diri di Waduk Gembong pada Rabu kemarin. Selang setelah dilakukan pencarian 3 hari, jasad Sumini baru dapat dievakuasi oleh tim SAR gabungan.



Jumat, 19 Februari 2010

SUMINI AKHIRI HIDUP DI WADUK GEMBONG


PATI - Entah apa yang terbesit didalam hati Sumini binti Sarkono, 22 tahun, warga Dukuh Betok, Desa Klakahkasihan, Kecamatan Gembong Kabupaten Pati Jawa Tengah. Perempuan malang yang pernah jadi TKW di Negeri Jiran, Malaysia, Rabu kemarin (18/2) memutuskan mengakhiri hidupnya di Waduk Gembong Pati.

Debit air saat ini tinggi, sehingga ukuran ketinggian air waduk mencapai 25 meter. Bantaran waduk juga dipenuhi dengan ranjau-ranjau ikan dan sampah bambu, hingga menjadikan kendala tersendiri pagi tim dalam pengoprasionalan mesin perahu karet. Dalam pengamatan, tampak berulang kali mesin perahu terlilit oleh ranjau jaring ikan dan potongan-potongan ranting bambu. Namun demikian, tim tak pantang menyerah dan pencarianpun tetap dilakukan dengan menurunkan tiga perahu karet bermesin. Satu diantaranya adalah milik TIM SATLAK PBP Kabupaten Kudus.

Menurut beberapa saksi ditempat kejadian perkara diperoleh keterangan bahwa, Rabu (18/2) sekitar pukul 10.00 wib terlihat seorang perempuan sedang naik ojek dari pangkalan ojek Desa Ngembes Pati. Namun saat tiba di depan pintu jalur masuk ke arah pintu pembuka waduk, tiba-tiba ia berhenti. Gelagat mencurigakanpun tak ada sama sekali. Orang mengira bahwa perempuan tersebut sedang berwisata, beberapa saat kemudian, terlihat suara orang mencebur kedalam waduk. Setelah dicari asal muasal suara ceburan tersebut, ternyata suara itu berasal dari tempat dimana si perempuan itu berada. Ditempat kejadian juga ditemukan sebuah tas dan sandal yang kuat dugaan adalah miliknya.

Tetangga korban, Karsidi, 45 tahun, di lokasi kejadian perkara diperoleh keterangan bahwa Sumini baru setahun yang lalu pulang dari Malaysia menjadi TKW. Ia menjadi TKW di Malaysia selama dua tahun. Sebelum peristiwa ini terjadi, korban sempat mengisi waktu bekerja menjadi PRT (Pembantu Rumah Tangga) di Ngemplak, Kajen, Pati. Namun, selang empat hari setelah korban pulang dari tempat kerja, tiba-tiba peristiwa ini menimpa korban. "Kami tidak mengira ia akan mengakhiri hidupnya seperti ini, empat hari sebelumnya, ia baru saja pulang bekerja dari Ngemplak, kok Mas", tuturnya.

Namun, jasad korban hingga berita ini di turunkan (19/2) pukul 19.00 WIB, belum juga diketemukan oleh Tim SAR gabungan terdiri dari SAR Kabupaten PATI, SATLAK PBP Kudus, SAR Jepara dan BPBD Jateng. Dalam pencarian korban, Tim menurunkan juru selam serta penjangkaran di titik lokasi yang diindikasikan menjadi tempat bersemayamnya korban.

Sementara itu, TIM SATLAK PBP Kudus dibawah komando Atok Darmobroto, SE memutuskan untuk bermalam dilokasi dan melanjutkan pencarian besuk pagi. "Pencarian korban kami intensifkan besuk pagi, jadi kami dan kawan-kawan SATGAS memutuskan untuk bermalam di sini", terangnya ditengah-tengah anggota Satgas PBP Kudus yang sedang breafing di lokasi kejadian. Hal ini dilakukan, karena tim berkeyakinan setelah tiga hari dari kejadian tenggelam, jasad korban biasanya akan mengapung kepermukaan air.

Senin, 15 Februari 2010

POHON ROBOH MELINTANG DI TENGAH JALAN


PEGANJARAN - Senin (15/2). Hujan deras disertai angin kencang yang terjadi sekitar 1 jam yang lalu sekitar pukul 18.30, mengakibatkan pohon anyoman jalan di Jalan Besito, - Gebog, ikut Desa Peganjaran Bae Kudus, tepatnya 300 meter arah selatan perempatan Besito, tumbang melintang ketengah jalan. Pohon dengan diameter 100 cm itu tak ayal mengakibatkan arus lalu lintas menjadi macet total. Namun, beruntunglah, tumbangnya pohon tersebut tak sempat memakan korban.

Berkat kesigapan aparat terkait, terdiri dari pihak satgas PBP Kudus dan Dinas Ciptakaru Kudus, pohon tumbang tersebut habis dapat dilumat oleh tiga gergaji mesin
(chainshaw) dalam hitungan menit. Setengah jam kemudian, nasib sebatang pohon itu dapat disingkirkan dari badan jalan. Arus lalu lintaspun menjadi lancar kembali. "Kami mendapatkan laporan dari Kapolsek Gebog dan Camat Gebog tentang adanya kejadian pohon roboh ini, sehingga kami langsung menerjunkan tim satgas PBP untuk mengatasinya", terang Atok Darmobroto, SE., Komandan satgas PBP pada kantor Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Kudus.

Sementara itu, ditempat yang sama, tampak hadir Kasi Trantib Kecamatan Gebog, Istiyanto, anggota patroli Polsek Cendono, Kepala Desa Peganjaran, dan sejumlah mahasiswa KKN Undip turut baur membaur untuk menyisihkan potongan-potongan kayu yang sudah dipotong memakai chainshaw untuk disisihkan kebahu jalan. Tujuannya tak lain agar para pengguna jalan lebih merasa aman.

Minggu, 14 Februari 2010

"KEDUNG GONG" KALI GELIS RENGGUT NYAWA

RAHTAWU- Tak ada hujan, tak ada banjir, namun kemarin Sabtu (13/2) warga Desa Rahtawu digegerkan dengan tewasnya seorang pemuda yang sedang mandi di "Kedung Gong" Kali Gelis, 1 kilometer arah utara dari kantor balai desa Rahtawu.

Korban adalah seorang laki-laki bernama Joko Sutejo bin Sofiyan, umur 24 tahun penduduk asal Dukuh Kebon Alas Desa Besito RT 03 RW 08 Gebog Kudus. Korban baru saja menikah dengan Istiqomah (19) setahun yang lalu. Saat ini kondisi istri korban sedang hamil dua bulan.

Menurut penuturan sejumlah warga di lokasi kejadian perkara menyebutkan bahwa sekitar pukul 14.00 korban bersama teman sekampungnya, Ngatno bin Suwoko, umur 16 tahun berniat menikmati panorama alam di pegununan Rahtawu, saat tiba di lokasi korban dan rekannya setelah melihat keelokan dan kejernihan air sungai di Kedung Gong, kali Gelis, korban bersama temannya memutuskan untuk mandi disungai. Cuaca saat itu cerah, aliran sungaipun landai-landai saja. Akan tetapi pada posisi arus air di Kedung Gong memang begitu deras. Disamping itu, penuturan warga menyebutkan bahwa lokasi ini dikultuskan warga setempat sebagai tempat wingit atau angker.

Disaat korban sedang mandi bersama temannya, tiba-tiba ia mencebur kedalam kedung yang kedalamannya kurang lebih 4 meter. Ketidak pandaian korban dalam melakukan renang akhirnya mengakibatkan korban tergulung dalam pusaran air hingga mengakibatkan korban menghembuskan nyawa terakhirnya. Teman korban yang melihat kejadian ini menjadi panik dan bergegas berteriak minta tolong pada warga yang melintas dibantaran sungai. Dengan berbagai upaya, akhirnya tepat pukul 14.30, Joko Sutejo dapat dievakuasi, namun nyawanya sudah tidak dapat tertolong.

WARGA MELAPOR KE TIM SAR
Selang beberapa menit setelah Joko dievakuasi, warga melapor ke Tim SAR Kabupaten Kudus lewat Kasi Trantib Kecamatan Gebog, Istiyanto. Dengan kesigapan informasi, Kasi Linmas pada Kesbangpol dan Linmas Kudus yang juga Komandan SAR Kudus, Atok Darmobroto, SE., langsung memutuskan untuk menerjunkan anakbuahnya ke TKP. Atok juga menginstruksikan agar jasad korban dibawa sementara waktu ke ruang Polindes Desa Rahtawu untuk dilakukan outopsi dari dokter Puskesmas Gebog.

Pengambilan outopsi dilakukan sekitar pukul 18.00 dan baru selesai pada pukul 18.45. Hasil outopsi dijelaskan bahwa korban murni tenggelam dan tidak ada indikasi terkena benda tumpul. "Joko murni tenggelam, ia kehabisan oksigen dan tidak dapat berenang, sehingga ia menghembuskan nyawanya, jasad korban masih utuh tidak ada indikasi terkena benda tumpul", terang H. Bambang, Dokter Puskesmas Gebog yang melakukan outopsi terhadap jasad Joko.

Setelah dilakukannya otopsi, jasad Joko langsung dikemas kedalam kantong mayat yang telah disediakan oleh Tim SAR Kudus. Jasad korban diangkut kedalam mobil operasional SAR dengan nomor polisi B 9320 LQ menuju rumah duka di Dukuh Kebon ALas RT 03 RW 08 No. 26 Desa Besito Gebog Kudus. Perjalanan jenazah korban dikawal oleh iring-iringan mobil patroli polsek Cendono dan mobil Trantib Kecamatan Gebog. Selang kemudian, pukul 19.30, Jasad korban tiba di kediaman orang tuanya. Tangis harupun tak terelakkan. Ibu korban, Sumini, 50 tahun masih tidak sadarkan diri, mendengar kabar anak laki-lakinya meninggal. Disisi lain, Istiqomah, 19 tahun yang menjadi istri korban juga mengalami hal yang sama.

Sementara itu, Kapolsek Cendono, AKP. R. Sulis menghimbau agar semua warga lebih hati-hati saat mandi di sungai Gelis. " Kita sudah sering memberikan warning kepada masyarakat dan pihak pemerintahan desa untuk lebih berhati-hati saat mandi di sungai", jelas Kapolsek. Disamping itu, Istiyanto, Kasi Trantib Kecamatan Gebog juga membeberkan bahwa di lokasi kejadian sudah terpampang peringatan untuk berhati-hati saat mandi di sungai Gelis. "Kita sudah pasang papan peringatan di lokasi tersebut", tandasnya.

Jumat, 12 Februari 2010

SATGAS PBP KUDUS DIGONCANG ISU MIRING

KOTA - Pagi ini (12/2), korps Satgas PBP Kudus digoncang isu tidak menyenangkan, terkait keberhasilan kinerja tim penanggulangan bencana di kota keretek, Kudus, dalam mengevakuasi jenazah dua pasangan suami istri, Nderin dan Biah, korban banjir Sungai Logung, minggu (7/2) lalu. Isu yang berkembang tersebut adalah tim satgas dikabarkan meminta imbalan sejumlah uang dari keluarga korban. Tak gemen-gemen, nominalnya mencapai 8 juta. "Saya mendapatkan laporan per telephon tadi pagi, sekitar jam 8.00, bahwa keluarga korban dimintai sejumlah uang oleh orang yang mengatasnamakan satgas", beber Atok.

Dalam realita pengabdian tim satgas PBP Kudus, tidak sepeserpun pernah meminta imbalan dalam bentuk apapun, terlebih para keluarga korban yang sedang terkena musibah. "Murni, kegiatan kita adalah untuk menolong sesama, kita tidak profit oriented", tambah Atok. Sementara Wadan Satgas PBP Kudus, Bejo, menambahkan penjelasan bahwa selama ini pelayanan tim satgas tidak pernah meminta sesuatu apapun dan dalam bentuk apapun kepada keluarga korban. Misi Kita adalah misi sosial kemasyarakatan. Jika ada orang yang menggoncang isu seperti diatas, jelas itu fitnah dan tidak benar.

Dalam kesempatan lain, Atok Darmobroto, SE, Kasi Linmas yang juga Komandan Satgas PBP Kudus saat dihubungi lewat ponselnya, langsung mentabayyunkan (menjelaskan-Red) hal tersebut. Beliau menjelaskan kepada koresponden blogger, bahwa itu hanya sebuah isu yang akan mencoba memecah kekuatan satgas yang selama ini sudah solid dan tertata rapi. "Itu adalah kerjaan orang-orang yang tidak suka pada satgas, mereka hanya ingin agar kekuatan kita runtuh", paparnya.

Sore harinya, sekitar pukul 15.30 WIB, Atok langsung turun ke lapangan melakukan koordinasi dengan Camat Jekulo, Sekcam Jekulo serta Kepala Desa Tanjungrejo, terkait isu tersebut. Paska dilakukannya koordinasi, Atok lalu mendatangi keluarga korban dan menanyakan isu tersebut, namun setelah diadakan cros chek kepada anak-anak dari keluarga korban, yang tidak mau menyebut identitasnya, ia mendapatkan penjelaskan bahwa, isu tersebut adalah salah dan tidak benar. "Kami dan keluarga kami tidak pernah dimintai apapun, termasuk uang dari orang-orang yang mengatasnakaan tim satgas Kudus, malahan kami dan segenap keluarga besar almarhum dan almarhumah mengucapkan terimakasih atas dedikasi dan pengabdian tim satgas PBP Kudus dalam turut serta membantu menemukan bapak dan ibu kami", jelasnya.

Ditempat terpisah, para anggota satgas, dibawah komando Budi Yuwono, mengadakan rapat mendadak, mengkaji hal itu. Dalam diskusi yang diikuti oleh 8 orang perwakilan satgas PBP, menyimpulkan bahwa isu ini adalah tidak benar, dan hanya intrik sebagian oknum kelompok orang-orang yang tidak suka pada kinerja satgas. "Kita sudah mendapat konfirmasi dari komandan satgas, bahwa ini hanyalah isu dan faktanya tidak ada, disamping itu, adegan ini hanyalah intrik untuk menjatuhkan kita", beber Budi.

Selasa, 09 Februari 2010

Satgas Evakuasi Korban Banjir Sungai Logung


JEKULO - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Dawe, Jum'at (5/2) kemarin memakan korban jiwa. Pasangan suami istri, Nderin dan Bi'ah, warga Tanjungrejo, Jekulo, Kudus menjadi korban keganasan derasnya banjir di sungai Logung, Tanjungrejo.

Menurut penuturan sejumlah warga, saat habis menunaikan sholat jum'at, Nderin beranjak kesawah untuk membawakan nasi buat sang istri, yang saat itu sedang menggarap sawah untuk ditanami padi. Lokasi sawah yang berada di timur sungai, disertai datangnya hujan deras yang turun sampai tiga kali, Nderin memutuskan untuk mengajak sang istri pulang ke rumah. Saat melintas sungai, tiba-tiba banjir bah datang yang kesekian kalinya. Nderin dan Biah berusaha untuk melawan ganasnya banjir, namun tiba-tiba, mereka berdua terpeleset dan jatuh dalam gulungan ombak banjir, keduanyapun langsung hanyut terbawa arus.


Keluarga Korban Bingung .............!

Setelah hari kian sore dan keduanya belum juga kembali pulang, keluargapun mencoba untuk mencari korban kesawah, namun saat dilihat disebuah gubuk, keduanya tidak ditemukan. akhirnya keluarga memutuskan untuk pulang dan melaporkan kepada para tetangga. Dengan semangat kegotongroyongan warga, saat itu juga, sekitar pukul 17.00 mereka berusaha mencari keduanya. Ada yang mencari disemak-semak hutan Gunung Patiayam, dan sebagian lainnya menyisiri sungai hingga sampai kemuara sungai di Desa Gadu.

Tepat pukul 20.30, Sekcam Jekulo, Drs. Halil, melapor kepada salah satu Satgas PBP Kudus, Budi Yuwono, terkait adanya dua waraganya yang hanyut di sungai. Kesigapan Bejo, panggilan akrabnya, meneruskan laporan kejadian tersebut kepada Komandan satgas, Atok Darma Brata, SE, yang juga Kasi Linmas pada kantor Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Kudus. Atok langsung memerintahkan anggota Satgas untuk terjun ke TKP dan segera melakukan pencarian korban dengan konsentrasi meswiping sungai dari TKP hingga bendung logung Tanjungrejo, Jekulo.

Dikeheningan malam disertai guyuran hujan angin, bersama para keluarga korban dan masyarakat setempat, tim menerjunkan perahu karet bermesin menyisir sungai sembari mengoyak air dengan tehnik penjangkaran dan jala kencana. Namun, upaya yang dilakukan tim Satgas hingga pukul 05.00 pagi belum juga membuahkan hasil.

Berbekal dari informasi warga, bahwa rantang plastik dan caping yang dibawa korban saat kesawah, ditemukan di Desa Sadang, Jekulo, Komandan satgas, Atok, langsung menarik tim untuk mendarat dengan mengadakan rapat koordinasi. Hasil koordinasi diputuskan untuk melakukan penyisiran sungai hingga ke Gadu. Mengingat, kondisi sungai di bawah logung dangkal, tim dipecah menjadi tiga. Satu tim melakukan penyisiran dengan teknik selam, tim kedua melakukan pemantauan informasi darat dan tim tiga melakukan penyisiran memakai perahu karet.

Sabtu, sekitar pukul 12.00 wib, kerja keras tim dan masyarakat membuahkan hasil. Bi'ah berhasil ditemukan di bawah jembatan Desa Gadu dengan kondisi sudah tidak bernyawa. Mayat korban langsung dievakuasi kedarat, namun atas permintaan keluarga, jasad korban langsung diputuskan untuk dibawa pulang ke desa Tanjungrejo untuk dimakamkan.


PENCARIAN DIINTENSIFKAN

Setelah korban Biah berhasil dievakuasi, tim masih melanjutkan untuk mencari Nderin. pencarian tersebut dilakukan hingga sampai ke sungai di perbatasan Kudus - Pati, namun lagi-lagi pencarian belum menghasilkan penemuan korban dimaksud. haripun kian sore, dan pukul 18.00, tim menghentikan penyisiran sungai. namun atas perintah komandan satgas, tim diputuskan untuk bermalam di bantaran sungai Desa Gadu. Dengan kesigapan tim dibantu Kepala Desa Tanjungrejo dan masyarakat, pemantauan terus dilakukan dengan memakai penerangan lampu mesin jenset.

Tepat pada pukul 05.00 pagi, saat ada pencari ikan yang tidak mau disebut namanya, lewat, dihentikan oleh salah satu anggota satgas PBP kudus, Bejo. perbincanganpun dilakukan diantara keduanya sekaligus memberitahukan informasi tentang masih adanya satu korban banjir yang hingga kini belum diketemukan. Bejo menandaskan dengan berpesan, "apabila ada indikasi mayat terapung, tolong segera memberi tahu kita", pinta Bejo.

Sang pencari ikanpun mengiyakan apa maksud dan permintaan Bejo. Namun, belum beranjak lama, sekitar lima menit dari tempat mereka berdua bertemu, tiba-tiba, pencari ikan berteriak-teriak keras sembari memberitahukan bahwa ada mayat terapung di sebelah timur jembatan besi, sekitar 500 meter arah timur dari jembatan Desa Gadu. Tim, yang sudah siap siaga, langsung menghidupkan mesin perahu untuk menuju ke lokasi dimaksud. akhirnya, benar, mayat yang dilihat pencari ikan tersebut adalah jasad Nderin, warga Tanjungrejo, Jekulo.

Satgas dibantu keluarga korban langsung melakukan evakuasi jasad korban. Kondisi jasad korban yang sudah berbau, diputuskan untuk langsung dimasukkan kedalam kantong mayat yang disiapkan oleh Satgas PBP Kudus. kesigapan tangan - tangan trampil anggota satgas, Budi, jamian dan Mashudi, dalam waktu sekejap, jasad korban sudah berhasil dimasukkan dalam kantong mayat.


Jasad Dikirim Ke Rumah Korban

Berbekal mobil operasional Satgas PBP Kudus, jasad korban langsung diangkut untuk diserahkan kepada keluarganya di Desa Tanjungrejo, Jekulo, Kudus. Isak tangispun pecah tidak terelakkan oleh para keluarga saat tim menurunkan kantong mayat berwarna hitam dari atas mobil. Rumah korban menjadi haru dan berjubel sanak kerabat yang sedang ber tasliyah, menghibur keluarga korban.

Setelah dilakukan serah terima oleh Komandan Satgas PBP Kabupaten Kudus kepada para keluarga korban, Atok berpesan, agar semuanya dikembalikan pada Tuhan Yang Maha Esa. "Bencana datang tidak bisa kita prediksikan, namun saat ada bencana, kita harus instrospeksi diri dan mengembalikan semuanya pada takdir Tuhan, untuk itu atas musibah ini, kami juga ikut berbela sungkawa", tambah nya.

Jumat, 22 Januari 2010

Posko Menawan ditarik ke Induk


Kewaspadaan penanggulangan bencana sudah seharusnya dijadikan pijakan oleh semua elemen masyarakat. Tak ketinggalan, tim tanggap bencana Kabupaten Kudus, dibawah kendali Kantor Kesbangpolinmas juga tak henti-hentinya melakukan giat antisipasi bencana, baik mulai daerah atas - Rahtawu, Menawan, Kambangan, Dawe dan sekitarnya-, juga memfokuskan ke daerah rawan banjir, Undaan, Mejobo dan Kaliwungu.

Kasi Linmas pada Kantor Kesbangpol dan linmas, yang juga menjadi Koordinator Posko Penanggulangan bencana mengatakan, "kegiatan pemantauan dan ketanggap daruratan bencana alam baik longsor, angin ribut dan banjir di Kabupaten Kudus sudah dimulai sejak 29 Desember 2009. namun mengingat kondisi dan perkiraan cuaca, mulai tanggal 19 Januari 2010, petugas piket di posko Menawan ditarik ke induk, Kantor Kesbangpol dan Linmas Kudus. Alasan ditariknya giat posko yang ada di wilayah utara, karena situasi di daerah bawah tepatnya di Kecamatan Mejobo, Undaan dan Kaliwungu sudah mulai ada genangan air baik di arel persawahan maupun sebagian di pemukiman warga, jelas Atok.

Ditambahkan olehnya, bahwa dalam setiap hari, tim jaga posko bencana disiap siagakan 6 personel yang stan by 24 jam. terdiri dari tiga personel anggota Satgas dan tiga lainnya dari unsur Linmas Inti. Kegiatan ini adalah murni perwujudan dharma bhakti kami kepada masyarakat dengan tanpa memikirkan unsur kepentingan individualisme kelompok maupun golongan. Ketika terjadi bencana diwilayah yang menjadi titik pemantauan, tim langsung membaur dengan masyarkat dan dengan peralatan yang ala kadarnya langsung terjun untuk melakukan kegiatan. Hal ini telah dilakukan di Kambangan dan Rahtawu, terkait dengan amblasnya jalan di dukuh Wetan kali dengan dimensi 1 x 10 m disamping itu pula giat anggota satgas yang dilakukan diwilayah Utara ( Kecamatan gebog) adalah sosialisasi dan kerja bhakti diantaranya penormalisasian gorong-gorong dan penebangan pohon yang tumbang dan melintang dibahu jalan sehingga mengganggu aktifitas warga setempat maupun pemekai kendaraan.

Masyarakat hendaknya selalu aktif dalam kegiatan penanggulangan bencana, setiap ada kejadian bencana seharusnya langsung menginformasikan kepada posko Induk yang dipusatkan di Kantor Kesbangpol dan linmas pada petugas piket/ anggota yang bertugas, atau bisa langsung kontang telphon 0291 435010 atau dial ke HT (Handy Talky 16.138), harap Kasi Linmas. (Posting by Abu Lina)