JEKULO - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Dawe, Jum'at (5/2) kemarin memakan korban jiwa. Pasangan suami istri, Nderin dan Bi'ah, warga Tanjungrejo, Jekulo, Kudus menjadi korban keganasan derasnya banjir di sungai Logung, Tanjungrejo.
Menurut penuturan sejumlah warga, saat habis menunaikan sholat jum'at, Nderin beranjak kesawah untuk membawakan nasi buat sang istri, yang saat itu sedang menggarap sawah untuk ditanami padi. Lokasi sawah yang berada di timur sungai, disertai datangnya hujan deras yang turun sampai tiga kali, Nderin memutuskan untuk mengajak sang istri pulang ke rumah. Saat melintas sungai, tiba-tiba banjir bah datang yang kesekian kalinya. Nderin dan Biah berusaha untuk melawan ganasnya banjir, namun tiba-tiba, mereka berdua terpeleset dan jatuh dalam gulungan ombak banjir, keduanyapun langsung hanyut terbawa arus.
Keluarga Korban Bingung .............!
Setelah hari kian sore dan keduanya belum juga kembali pulang, keluargapun mencoba untuk mencari korban kesawah, namun saat dilihat disebuah gubuk, keduanya tidak ditemukan. akhirnya keluarga memutuskan untuk pulang dan melaporkan kepada para tetangga. Dengan semangat kegotongroyongan warga, saat itu juga, sekitar pukul 17.00 mereka berusaha mencari keduanya. Ada yang mencari disemak-semak hutan Gunung Patiayam, dan sebagian lainnya menyisiri sungai hingga sampai kemuara sungai di Desa Gadu.
Tepat pukul 20.30, Sekcam Jekulo, Drs. Halil, melapor kepada salah satu Satgas PBP Kudus, Budi Yuwono, terkait adanya dua waraganya yang hanyut di sungai. Kesigapan Bejo, panggilan akrabnya, meneruskan laporan kejadian tersebut kepada Komandan satgas, Atok Darma Brata, SE, yang juga Kasi Linmas pada kantor Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Kudus. Atok langsung memerintahkan anggota Satgas untuk terjun ke TKP dan segera melakukan pencarian korban dengan konsentrasi meswiping sungai dari TKP hingga bendung logung Tanjungrejo, Jekulo.
Dikeheningan malam disertai guyuran hujan angin, bersama para keluarga korban dan masyarakat setempat, tim menerjunkan perahu karet bermesin menyisir sungai sembari mengoyak air dengan tehnik penjangkaran dan jala kencana. Namun, upaya yang dilakukan tim Satgas hingga pukul 05.00 pagi belum juga membuahkan hasil.
Berbekal dari informasi warga, bahwa rantang plastik dan caping yang dibawa korban saat kesawah, ditemukan di Desa Sadang, Jekulo, Komandan satgas, Atok, langsung menarik tim untuk mendarat dengan mengadakan rapat koordinasi. Hasil koordinasi diputuskan untuk melakukan penyisiran sungai hingga ke Gadu. Mengingat, kondisi sungai di bawah logung dangkal, tim dipecah menjadi tiga. Satu tim melakukan penyisiran dengan teknik selam, tim kedua melakukan pemantauan informasi darat dan tim tiga melakukan penyisira
n memakai perahu karet.
Sabtu, sekitar pukul 12.00 wib, kerja keras tim dan masyarakat membuahkan hasil. Bi'ah berhasil ditemukan di bawah jembatan Desa Gadu dengan kondisi sudah tidak bernyawa. Mayat korban langsung dievakuasi kedarat, namun atas permintaan keluarga, jasad korban langsung diputuskan untuk dibawa pulang ke desa Tanjungrejo untuk dimakamkan.
PENCARIAN DIINTENSIFKAN
Setelah korban Biah berhasil dievakuasi, tim masih melanjutkan untuk mencari Nderin. pencarian tersebut dilakukan hingga sampai ke sungai di perbatasan Kudus - Pati, namun lagi-lagi pencarian belum menghasilkan penemuan korban dimaksud. haripun kian sore, dan pukul 18.00, tim menghentikan penyisiran sungai. namun atas perintah komandan satgas, tim diputuskan untuk bermalam di bantaran sungai Desa Gadu. Dengan kesigapan tim dibantu Kepala Desa Tanjungrejo dan masyarakat, pemantauan terus dilakukan dengan memakai penerangan lampu mesin jenset.
Tepat pada pukul 05.00 pagi, saat ada pencari ikan yang tidak mau disebut namanya, lewat, dihentikan oleh salah satu anggota satgas PBP kudus, Bejo. perbincanganpun dilakukan diantara keduanya sekaligus memberitahukan informasi tentang masih adanya satu korban banjir yang hingga kini belum diketemukan. Bejo menandaskan dengan berpesan, "apabila ada indikasi mayat terapung, tolong segera memberi tahu kita", pinta Bejo.
Sang pencari ikanpun mengiyakan apa maksud dan permintaan Bejo. Namun, belum beranjak lama, sekitar lima menit dari tempat mereka berdua bertemu, tiba-tiba, pencari ikan berteriak-teriak keras sembari memberitahukan bahwa ada mayat terapung di sebelah timur jembatan besi, sekitar 500 meter arah timur dari jembatan Desa Gadu. Tim, yang sudah siap siaga, langsung menghidupkan mesin perahu untuk menuju ke lokasi dimaksud. akhirnya, benar, mayat yang dilihat pencari ikan tersebut adalah jasad Nderin, warga Tanjungrejo, Jekulo.
Satgas dibantu keluarga korban langsung melakukan evakuasi jasad korban. Kondisi jasad korban yang sudah berbau, diputuskan untuk langsung dimasukkan kedalam kantong mayat yang disiapkan oleh Satgas PBP Kudus. kesigapan tangan - tangan trampil anggota satgas, Budi, jamian dan Mashudi, dalam waktu sekejap, jasad korban sudah berhasil dimasukkan dalam kantong mayat.
Jasad Dikirim Ke Rumah Korban
Berbekal mobil operasional Satgas PBP Kudus, jasad korban langsung diangkut untuk diserahkan kepada keluarganya di Desa Tanjungrejo, Jekulo, Kudus. Isak tangispun pecah tidak terelakkan oleh para keluarga saat tim menurunkan kantong mayat berwarna hitam dari atas mobil. Rumah korban menjadi haru dan berjubel sanak kerabat yang sedang ber tasliyah, menghibur keluarga korban.
Setelah dilakukan serah terima oleh Komandan Satgas PBP Kabupaten Kudus kepada para keluarga korban, Atok berpesan, agar semuanya dikembalikan pada Tuhan Yang Maha Esa. "Bencana datang tidak bisa kita prediksikan, namun saat ada bencana, kita harus instrospeksi diri dan mengembalikan semuanya pada takdir Tuhan, untuk itu atas musibah ini, kami juga ikut berbela sungkawa", tambah nya.
Menurut penuturan sejumlah warga, saat habis menunaikan sholat jum'at, Nderin beranjak kesawah untuk membawakan nasi buat sang istri, yang saat itu sedang menggarap sawah untuk ditanami padi. Lokasi sawah yang berada di timur sungai, disertai datangnya hujan deras yang turun sampai tiga kali, Nderin memutuskan untuk mengajak sang istri pulang ke rumah. Saat melintas sungai, tiba-tiba banjir bah datang yang kesekian kalinya. Nderin dan Biah berusaha untuk melawan ganasnya banjir, namun tiba-tiba, mereka berdua terpeleset dan jatuh dalam gulungan ombak banjir, keduanyapun langsung hanyut terbawa arus.
Keluarga Korban Bingung .............!
Setelah hari kian sore dan keduanya belum juga kembali pulang, keluargapun mencoba untuk mencari korban kesawah, namun saat dilihat disebuah gubuk, keduanya tidak ditemukan. akhirnya keluarga memutuskan untuk pulang dan melaporkan kepada para tetangga. Dengan semangat kegotongroyongan warga, saat itu juga, sekitar pukul 17.00 mereka berusaha mencari keduanya. Ada yang mencari disemak-semak hutan Gunung Patiayam, dan sebagian lainnya menyisiri sungai hingga sampai kemuara sungai di Desa Gadu.
Tepat pukul 20.30, Sekcam Jekulo, Drs. Halil, melapor kepada salah satu Satgas PBP Kudus, Budi Yuwono, terkait adanya dua waraganya yang hanyut di sungai. Kesigapan Bejo, panggilan akrabnya, meneruskan laporan kejadian tersebut kepada Komandan satgas, Atok Darma Brata, SE, yang juga Kasi Linmas pada kantor Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Kudus. Atok langsung memerintahkan anggota Satgas untuk terjun ke TKP dan segera melakukan pencarian korban dengan konsentrasi meswiping sungai dari TKP hingga bendung logung Tanjungrejo, Jekulo.
Dikeheningan malam disertai guyuran hujan angin, bersama para keluarga korban dan masyarakat setempat, tim menerjunkan perahu karet bermesin menyisir sungai sembari mengoyak air dengan tehnik penjangkaran dan jala kencana. Namun, upaya yang dilakukan tim Satgas hingga pukul 05.00 pagi belum juga membuahkan hasil.
Berbekal dari informasi warga, bahwa rantang plastik dan caping yang dibawa korban saat kesawah, ditemukan di Desa Sadang, Jekulo, Komandan satgas, Atok, langsung menarik tim untuk mendarat dengan mengadakan rapat koordinasi. Hasil koordinasi diputuskan untuk melakukan penyisiran sungai hingga ke Gadu. Mengingat, kondisi sungai di bawah logung dangkal, tim dipecah menjadi tiga. Satu tim melakukan penyisiran dengan teknik selam, tim kedua melakukan pemantauan informasi darat dan tim tiga melakukan penyisira
Sabtu, sekitar pukul 12.00 wib, kerja keras tim dan masyarakat membuahkan hasil. Bi'ah berhasil ditemukan di bawah jembatan Desa Gadu dengan kondisi sudah tidak bernyawa. Mayat korban langsung dievakuasi kedarat, namun atas permintaan keluarga, jasad korban langsung diputuskan untuk dibawa pulang ke desa Tanjungrejo untuk dimakamkan.
PENCARIAN DIINTENSIFKAN
Setelah korban Biah berhasil dievakuasi, tim masih melanjutkan untuk mencari Nderin. pencarian tersebut dilakukan hingga sampai ke sungai di perbatasan Kudus - Pati, namun lagi-lagi pencarian belum menghasilkan penemuan korban dimaksud. haripun kian sore, dan pukul 18.00, tim menghentikan penyisiran sungai. namun atas perintah komandan satgas, tim diputuskan untuk bermalam di bantaran sungai Desa Gadu. Dengan kesigapan tim dibantu Kepala Desa Tanjungrejo dan masyarakat, pemantauan terus dilakukan dengan memakai penerangan lampu mesin jenset.
Tepat pada pukul 05.00 pagi, saat ada pencari ikan yang tidak mau disebut namanya, lewat, dihentikan oleh salah satu anggota satgas PBP kudus, Bejo. perbincanganpun dilakukan diantara keduanya sekaligus memberitahukan informasi tentang masih adanya satu korban banjir yang hingga kini belum diketemukan. Bejo menandaskan dengan berpesan, "apabila ada indikasi mayat terapung, tolong segera memberi tahu kita", pinta Bejo.
Sang pencari ikanpun mengiyakan apa maksud dan permintaan Bejo. Namun, belum beranjak lama, sekitar lima menit dari tempat mereka berdua bertemu, tiba-tiba, pencari ikan berteriak-teriak keras sembari memberitahukan bahwa ada mayat terapung di sebelah timur jembatan besi, sekitar 500 meter arah timur dari jembatan Desa Gadu. Tim, yang sudah siap siaga, langsung menghidupkan mesin perahu untuk menuju ke lokasi dimaksud. akhirnya, benar, mayat yang dilihat pencari ikan tersebut adalah jasad Nderin, warga Tanjungrejo, Jekulo.
Satgas dibantu keluarga korban langsung melakukan evakuasi jasad korban. Kondisi jasad korban yang sudah berbau, diputuskan untuk langsung dimasukkan kedalam kantong mayat yang disiapkan oleh Satgas PBP Kudus. kesigapan tangan - tangan trampil anggota satgas, Budi, jamian dan Mashudi, dalam waktu sekejap, jasad korban sudah berhasil dimasukkan dalam kantong mayat.
Jasad Dikirim Ke Rumah Korban
Berbekal mobil operasional Satgas PBP Kudus, jasad korban langsung diangkut untuk diserahkan kepada keluarganya di Desa Tanjungrejo, Jekulo, Kudus. Isak tangispun pecah tidak terelakkan oleh para keluarga saat tim menurunkan kantong mayat berwarna hitam dari atas mobil. Rumah korban menjadi haru dan berjubel sanak kerabat yang sedang ber tasliyah, menghibur keluarga korban.
Setelah dilakukan serah terima oleh Komandan Satgas PBP Kabupaten Kudus kepada para keluarga korban, Atok berpesan, agar semuanya dikembalikan pada Tuhan Yang Maha Esa. "Bencana datang tidak bisa kita prediksikan, namun saat ada bencana, kita harus instrospeksi diri dan mengembalikan semuanya pada takdir Tuhan, untuk itu atas musibah ini, kami juga ikut berbela sungkawa", tambah nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar